Saturday, 22 August 2009
Quran Yang Berdebu
Membuka kembali satu Quran yg bisa dibilang berdebu..
Lalu aku melihat coretan-coretan tangan kecil penanda bacaan.
Ada yg bentuknya bintang, wajah tersenyum, atau sekedar abstrak. Namun, selalu ada tanggal di sebelahnya untuk mengetahui sampai mana aku membacanya.
Walau tidak terlihat, tapi pasti ada bercak air mata juga. Waktu aku dulu menangis lantaran dipaksa belajar mengaji...
Ya, dengan Quran ini aku belajar mengaji dari kecil.
Kertasnya pun telah menguning, dan sampul emasnya juga berdebu.
Berbeda saat pertama nenekku memberikannya padaku..
Aku sadar telah jarang mengaji lagi.. Apa aku masih bisa?
Kubuka kembali satu Quran yg bisa dibilang berdebu.
Dan kubaca terbata-bata...
Kebon Jeruk, Agustus 2009
Lalu aku melihat coretan-coretan tangan kecil penanda bacaan.
Ada yg bentuknya bintang, wajah tersenyum, atau sekedar abstrak. Namun, selalu ada tanggal di sebelahnya untuk mengetahui sampai mana aku membacanya.
Walau tidak terlihat, tapi pasti ada bercak air mata juga. Waktu aku dulu menangis lantaran dipaksa belajar mengaji...
Ya, dengan Quran ini aku belajar mengaji dari kecil.
Kertasnya pun telah menguning, dan sampul emasnya juga berdebu.
Berbeda saat pertama nenekku memberikannya padaku..
Aku sadar telah jarang mengaji lagi.. Apa aku masih bisa?
Kubuka kembali satu Quran yg bisa dibilang berdebu.
Dan kubaca terbata-bata...
Kebon Jeruk, Agustus 2009
Labels:
goresan
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
author
About Me
- farichah
- chirpy duckling, petrichor addict, criminal mind, a rookie writer, believed that zombies are exist
scrap
once upon
Friends
follow or not
Followers
visitor
Tinggalkan jejak anda...
Feedjit
doodle
Powered by Blogger.

1 comments:
jadi inget pas gw belajar ngaji dulu.. dipaksa, dimarahi, dipukul.. menangis, marah, kabur.. sampai-sampai saya bisa mengaji dengan lancar sekarang.. tapi.. makna mengaji itu apa ya klo sekarang saya tidak pernah mendapat apa yang saya baca itu?
Post a Comment