Monday, 26 April 2010
Mahakam Sang Sungai Maha Besar
Di luar, awan-awan kecil bertengger diatas laut biru layaknya buih minuman soda yang baru dituang. Aku terbangun saat awak kabin menyalakan mikrofon dan mengumumkan bahwa para penumpang harus segera menggunakan seatbelt mereka masing-masing. Setidaknya itu yang sayup-sayup kudengar saat mataku masih setengah tertutup karena rasa kantuk. Aku menoleh kearah jendela. Awan-awan yang tadinya menutupi laut kini berada diatasku. Guncangan pesawat makin jelas terasa, seperti busway yang sedang mengerem. Tak lama kemudian roda-roda pesawat menyentuh tanah landai beraspal, barulah aku dapat bernapas lega. Tangga pesawat kuturuni dengan tergesa-gesa akibat rasa tidak sabar menapakkan kaki kembali ke tanah. Perjalanan sekitar dua jam ini agak membosankan karena hanya langit yang kulihat. Tidak percaya akhirnya aku sampai juga disini, dimana di hadapanku terpampang tulisan besar “Sepinggan Balikpapan”
Sebuah mobil Fortuner yang didalangi seseorang dari perusahaan datang menjemputku. Sekilas kulihat Balikpapan tidak berbeda jauh dengan kota kelahiranku, DKI Jakarta terutama bagian barat ibukota tersebut. Yang membedakannya adalah lebih banyak pohon dan jalannya berkelok-kelok. Mengingatkanku kepada jalanan di sekitar Cisarua Bogor, namun jauh lebih panas. Berbeda dengan sekitar Soekarno-Hatta yang cenderung lebih ke pinggiran, daerah sekitar Sepinggan tersebut justru ramai. Setelah mampir sebentar ke kantor perusahaan yang hendak kuteliti, aku berangkat lagi menuju penginapan tempatku beristirahat. Sepanjang perjalanan aku makin yakin, ya, Sepinggan memang mirip kota Bogor.
Matahari mulai mengantuk dan segera tidur di peraduannya. Hari makin gelap saat orang-orang perusahaan mengajakku pergi ke sebuah Mall di Balikpapan. Tidak tanggung-tanggung, kehidupan malam di mall ini tidak kalah dengan hedonisme ibu kota. Perempuan-perempuan dengan celana pendek berlalu-lalang disana tanpa malu-malu. Aku dan orang-orang dari perusahaan tadi saling bercengkrama dan berkenalan karena kami akan berada di satu mobil yang akan menempuh perjalanan sekitar 8 jam. Harus kuakui, mereka memang kumpulan orang-orang yang menyenangkan dan enak diajak berbicara.
Mesin Mobil Kijang Innova dinyalakan. Saat itu jamku menunjukkan pukul 9 malam waktu Jakarta yang sama artinya dengan pukul 10 waktu Kalimantan Timur. Kami sempat berdoa sebentar sebelum menenggak sebutir pil anti mabuk untuk perjalanan. Yang aku ingat setelah itu adalah saat aku tertidur dan terbentur-bentur kaca mobil selama berjam-jam karena banyaknya lubang di jalan, dan bangun kembali pada saat tengah malam. Off Road mungkin adalah dua kata yang pas untuk menjelaskan situasi jalanan saat itu. Ya, aku sempat dilanda bosan. Bagaimana tidak, sepanjang perjalanan, kiri dan kanan kami dipenuhi dengan hutan, hutan dan hutan yang belum terjamah sepertinya. Beberapa ceruk pertambangan tampak mencolok karena warna mereka yang berbeda dengan sekitarnya.
Sampailah pada suatu tempat penginapan yang berada pada daerah yang mereka sebut “Melak”. Harapanku untuk meluruskan punggung sejenak akibat perjalanan yang ternyata molor 4 jam pupus sudah. Mereka sudah mau pergi lagi ke “Tering”. Ya, Tering yang kering karena banyak debu-debu berterbangan di sekitar jalan utama yang baru dibangun. Persis seperti badai pasir yang biasa terjadi di gurun sahara. Perjalanan sekitar 30 menit ini mengantarkan kami ke tepi sungai terbesar di dunia.
Pernah menonton film Mighty Joe Young, Anaconda atau George of The Jungle? Begitulah kira-kira pemandangan hutan yang disuguhkan oleh sungai Mahakam. Saya setuju jika kata Texas dalam slogan “Everything looks bigger in Texas” diganti dengan Mahakam. Dari mulai udang, serangga, ikan terlihat lebih besar disana. Belum lagi buaya-buaya yang sempat diceritakan orang-orang yang pernah kesana sebelumnya. Mungkin aku hanya sebuah kudapan kecil tak bergizi bagi hewan tanpa pita suara tersebut.
Hutan Kalimantan kerap ditebangi untuk keperluan usaha. Bukan sebuah kesalahan tentunya jika menilik kembali peraturan daerah yang memang mempromosikan lahan-lahan Kalimantan untuk dijadikan perusahaan. Namun jika melihat langsung ke tempat land clearing, gersang sekali rasanya. Panas, debu dan tanah kering rasanya seperti menusuk kulit dan memanggangnya hingga matang. Tak banyak yang kulakukan selain mencari bayang-bayang untuk berteduh.
Saat kembali ke kota Balikpapan, jalur yang sama kutempuh dengan memakan waktu lebih lama. Ya, aku menyempatkan makan disebuah restoran Padang. Hmm, nampaknya restoran Padang patut dijadikan indikator globalisasi layaknya McDonald dan Nokia karena persebarannya yang cukup luas di nusantara. Aku banyak tertidur saat perjalanan pulang. Bagaimana tidak, jika kubuka mata sebentar, aku bisa mual karena perjalanan yang berkelok-kelok dan berlubang.
Sebelum pulang ke Jakarta kusempatkan membeli makanan khas Kalimantan. ‘Amplang’ namanya, sebuah krupuk yang terbuat dari ikan, tepung dan bumbu-bumbu lainnya. Dari kecil aku menyukai makanan ini, hanya saja tidak tahu kalau makanan yang memiliki rasa gurih ini berasal dari Kalimantan Timur.
Aku merindukan Jakarta. Ya sangat rindu. Maka ketika pesawat ini mendarat di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, hatiku berteriak senang. Seseorang menungguku tepat di pintu keluar. Jakarta, kota yang menyimpan rindu, tampaknya aku memang benar-benar tidak bisa jauh dari kota tersebut. Namun bukan berarti aku tak suka Balikpapan, Melak, atau desa-desa lain di Kalimantan. Setiap kota memiliki daya tarik masing-masing. Bahkan, aku tidak keberatan untuk menumpang sampan mengarungi Mahakam lagi. Ya, aku suka Mahakam.
Balikpapan-Melak-Jakarta, 20 April 2009
Balikpapan-Melak-Jakarta, 20 April 2009
Labels:
catatan perjalanan,
photograph
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
author
About Me
- farichah
- chirpy duckling, petrichor addict, criminal mind, a rookie writer, believed that zombies are exist
scrap
once upon
Friends
follow or not
Followers
visitor
Tinggalkan jejak anda...
Feedjit
doodle
Powered by Blogger.
0 comments:
Post a Comment