Friday, 20 August 2010
Merdeka di Karimun Jawa
17 Agustus 2009…
Menilik kembali setahun yang lalu saat dengan sedikit modal nekat saya menekan ‘attending’ untuk RSPV liburan ke Karimun Jawa. Saya cuma mengenal 2 orang saat itu: ney dan ricco. Ya, tanpa pikir terlalu panjang, karena biasanya ujung-ujungnya gak bakal jadi.
“Dua tas cukup” pikirku saat berencana meninggalkan rumah selama seminggu lebih. Satu tas ransel lowepro kupinjam dari seorang teman dan yang lainnya dari ibuku. Cukup berat, saya kemudian memesan tiket travel Cipaganti cabang Kebon Jeruk. Bandung? Ya, Paris van Java lah tujuan pertamaku karena disanalah rombongan yang berisi orang-orang yang kukenal akan berangkat.
Setelah menjajah kostan ney, esoknya kami siap berangkat bersama dengan beberapa orang lain dari Bandung. Sekitar 12 Jam bus ini berjalan dari Bandung menuju Jepara, dan sampai esok paginya. Masih ngantuk, kebelet pipis dan lapar belum sarapan, kami bertemu dengan rombongan Solo. Kata mereka, kapal Muria akan segera berangkat. Dan perjalanan air berikutnya akan memakan waktu enam jam…
Uno memang menyenangkan. Uno pula permainan penghilang rasa bosan kami. Tetapi mana ada orang bermain Uno selama 6 jam nonstop? Karena itulah kami sempat berhenti bermain dan tertidur..
Akhirnya sampai juga di pulau Karimun Jawa. Kami pun berjalan kaki menuju rumah penduduk yang sudah dipesan untuk kami menginap. Setelah berberes-beres, kita menuju ke penangkaran hiu.. sounds horrible but we’ll never know unless we try right? Tepat saat mentari sudah malu-malu mengintip dari balik awan..
Kucelupkan kakiku ke kolam yang berisi ikan-ikan hiu tersebut. Merinding, padahal airnya hangat. Ah ya, saya sedikit takut saat itu. Tapi setelah tahu kalau hiunya kecil-kecil dan baik hati (atau gak nafsu liat saya yang seperti tulang belulang?) saya santai.. Begitupun teman-teman yang lain. Alhasil, tidak sampai setengah jam, kami bermain sendiri dan melupakan hiu… poor sharks…
Setelah selesai dari tempat penangkaran hiu, kami makan di warteg bu Esther. Entah karena lapar atau lelah atau memang doyan, makanan disitu enak banget dan harganya bener-bener gak masuk akal sangking murahnya. She’s really recommended warteg owner..!!
Kami menimba sumur dulu sebelum mandi. Jangan harap ada kamar mandi seperti di kota-kota. Kamar mandi disini tidak menggunakan pintu melainkan tirai. Diliputi rasa was-was, acara mandi saya yang biasa memakan waktu lama, saat itu hanya berlangsung beberapa menit.. hebat.
Saat terbaik setelah mandi adalah saat saya, Ricco dan beberapa orang lainnya mengendarai motor untuk sekedar mampir ke suatu dermaga tanpa pemilik. Dengan gelap absolut, nampak bintang-bintang gemerlapan di atas kami dan sirip-sirip ikan berkilauan dibawah kami, dibawah kayu dermaga yang kami duduki. Saya coba mengabadikannya dengan kamera tapi tidak mampu. Dari situ saya belajar, tidak semua kekuasaan Tuhan dapat direkam dengan alat manusia.
Mata adalah lensa dan kepala adalah memory card terbaik saat kita mencoba mengabadikan keindahan yang hanya Tuhan tujukan kepada kita, bukan orang lain.
Kita main Uno lagi… Dan saya selalu kalah… Foto diatas menunjukkan masa keterpurukan saya di bidang uno.. crap -___-“
Esok paginya kami kembali ke dermaga itu dengan berjalan kaki. Agak jauh memang, tapi kaki saya tidak mengeluh karena diimingi pemandangan indah tadi malam. Sayang, karena matahari sudah tampak, kilau para bintang dan ikan tidak mau lagi bermain bersama kami..
.jpg)
Tapi suasana disana sangat menghibur kami… Setelah ini, kami bersiap segera snorkling..!!! Setelah makan di warung Bu Esther (lagi), persiapan pun dimulai. Seraya membungkus makan siang, kami membagikan life jacket dan alat-alat snorkling yang kita sewa seharga 25 ribu rupiah sepuasnya. Tujuan kami adalah pulau kecil yang memakan waktu sekitar 2 jam dengan kapal nelayan...
Kami bermain seolah lupa waktu
Waktu telah menggerus umur namun tidak semangat kami
Kami bermain seolah lupa daratan
Laut menutup indra kami dengan kearifannya
Mengutip kata seorang kawan lama:
Kita tidak pernah benar-benar menaklukan alam, ia hanya berbaik hati mempersilahkan kita menikmatinya
Tidak lupa mengibarkan bendera merah putih...
Saat senja kami pulang ke pulau karimun. Disana air sangat sulit sehingga kami terpaksa mandi bersama.
Saatnya berpisah kepada para kawan-kawan baru yang menyenangkan. Kami naik kapal Muria pagi harinya. Enam jam kali ini terasa lebih cepat karena kami semua tertidur sampai di pelabuhan Jepara. Kami naik becak sampai terminal, dilanjutkan dengan bus Kramat Djati menuju Bandung.
Dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan, dan kali inilah perpisahannya.
Merdeka berarti bebas. Saat itu saya bebas menikmati alam, menikmati apa yang orang lain belum tentu bisa nikmati. Saya beruntung, sangat beruntung...
Merdeka berarti bebas. Saat itu saya bebas menikmati alam, menikmati apa yang orang lain belum tentu bisa nikmati. Saya beruntung, sangat beruntung...
Far away, this ship is taking me far away
Far away from the memories
of the people who care if I live or die
-Muse-
Jakarta, 17 Agustus 2010
Labels:
catatan perjalanan,
photograph
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
author
About Me
- farichah
- chirpy duckling, petrichor addict, criminal mind, a rookie writer, believed that zombies are exist
scrap
once upon
Friends
follow or not
Followers
visitor
Tinggalkan jejak anda...
Feedjit
doodle
Powered by Blogger.
.jpg)
.jpg)







.jpg)


4 comments:
next..
Mudik ke Kepulauan Seribu!?
ahahahaha.. *teteup* =P
Hahah itu sih bukan mudik namanya..!! L-I-B-U-R-A-N
Mari kita nikmati yang indah-indah co
kok aku sedih ya bacanya, huhu.. :') kangen bgtttt! *hufff*
Terima kasih informasinya. Blog yang inspiratif..
Post a Comment