Thursday, 23 April 2009

Tipar: Sebuah Catatan Perjalanan

Setelah hampir sebulan saya merengek-rengek minta seorang teman mengembalikan KTP dan KTM saya dalam sebuah tas yang saya titipkan padanya, akhirnya ia membawakan tas tersebut kemarin. Saat saya buka tas tersebut saya baru ingat menyimpan handycam di tas yang sama. Saya ambil handycam itu dan saya buka layar LCD nya. Seperti membuka buku tua rasanya. Buku yang penuh kenangan akan dusun Tipar, Desa Cikelet, Garut Selatan…



------------------------------------------------------------------------------------

Waktu itu hari Jumat tepatnya awal Maret 2009 di sekretariat Suara Mahasiswa Gedung Pusgiwa lantai 2, saya dan Lila sedang menyimak sang Pemimpin Umum menyampaikan berbagai hal di depan forum. Tak disangka, ia menunjuk ke arah kami berdua seolah kami tertuduh. “Lo ikut ke Garut yah? Udah ada Ali dan kok” katanya. Mendengar kata ‘Garut’ seperti sebuah liburan buat saya. Setelah berpikir matang akhirnya kita memutuskan untuk ikut kesana untuk melakukan liputan.

Dua hari kemudian, saya diajak ikut rapat menemui si ketua forum, Sofyan Tsuri. Bersama Ali, saya mendengarkan penjelasannya dan melihat video tentang desa tempat kita akan meliput. “Forum Mahasiswa Indonesia Tanggap Flu Burung ini adalah Forum yang terdiri dari para mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia, khususnya di Jawa bagian Barat. Forum ini bekerja sama dengan berbagai pihak akan berangkat ke Dusun Tipar untuk memberi penyuluhan kepada masyarakat sekitar agar lebih waspada terhadap flu burung” ujarnya sambil memperlihatkan video keadaan di desa tersebut. Setelah diberikan penjelasan cukup jelas mengenai ‘mengapa saya akan pergi ke Garut’, saya berpikir lain: Dimana saya harus membeli sandal gunung? Bagaimana tidak, track menuju dusun tersebut lumayan berat dan tidak ada transportasi yang cukup memadai. Tidak heran jika pemerintah setempat malas-malasan untuk memajukan desa terpencil tersebut meskipun alarm merah flu burung telah berbunyi nyaring di telinga mereka.

Jam 11 malam saya dan Lila sampai di lobby Fakultas Kesehatan Masyarakat UI. Setelah meyakinkan satpam setempat bahwa kami bukan copet, kami menunggu teman-teman yang lain. Tengah malam, bus yang kita tumpangi sudah siap dan kita berbaris rapi, mengecek segala sesuatu serta berdoa sebelum berangkat. Di dalam bus, saya dan Lila mengambil tempat duduk di depan dan menimbun sejumlah Tolak Angin dan Balsem karena termakan isu mabuk perjalanan. Perjalanan yang ditempuh lumayan jauh dan berkelok-kelok. Sayangnya sepanjang jalan saya tidur seperti sapi dan bangun sebentar sekedar untuk makan dan ke toilet pom bensin. Namun, setidaknya saya tidak melewatkan pemandangan indah saat bus ini berjalan menyusuri gunung dan lembah.

Bus mulai diparkir, pertanda kita sudah sampai di desa Cikelet. Setelah beristirahat sebentar di Kantor Kepala Desa dan meneguk air kelapa, kami melanjutkan perjalanan kurang lebih 10 kilometer menuju dusun Tipar. Wajah lelah seolah tidak mampu kami sembunyikan pada setiap kali kami beristirahat. Namun, tawa dan guyonan yang tak henti membuat perjalanan kami selalu hidup dalam semangat yang tak pernah padam. Jalanan pegunungan yang terkadang naik dan turun lumayan membuat kami sering beristirahat dan menggumam “semangat!” sebagai motivasi diri. Namun hal itu terbayar dengan pemandangan mengagumkan berupa perpaduan pegunungan dan cakrawala lautan khas Garut. Mendekati basecamp, salah seorang teman menunjukkan kepada saya sebuah bangunan yang niatnya akan dijadikan puskesmas. Namun, puskesmas wannabe itu terbengkalai, entah mengapa. Dan warga yang lelah menunggu janji akhirnya menyulap bangunan itu menjadi kandang hewan. Sepanjang perjalanan pula saya dan semua orang melihat kemesraan antara penduduk sekitar dengan unggas-unggas mereka yang sebenarnya justru membahayakan jiwa mereka.

Sampailah kita di sebuah rumah milik Pak Mimin pada pukul 5 atau 6 sore. Disana semua orang terlihat lelah tidak terkecuali orang-orang yang naik truk saat mendaki. Waktu tersebut saya gunakan untuk mandi, makan, solat, sekaligus berkenalan dengan anggota-anggota forum, atau istilah eksekutifnya: nyebar kartu nama, dengan harapan, saya tidak autis dengan dunia saya sendiri. Saatnya tidur. Karena terlalu penuh oleh mahasiswa-mahasiswa yang kelelahan , maka saya rela ditendang dan menendang saat tidur.

Pagi hari dimulai dengan antri mandi dan sarapan, dikuti oleh rapat sebelum kegiatan. Dalam rapat itu pula kami dipecah menjadi beberapa kelompok untuk mendatangi masing-masing RW. Saya kebagian meliput di RW 8 bersama dengan beberapa orang lainnya. Kegiatan hari ini adalah meminta kerjasama warga untuk membangun kandang unggas pada hari sabtu. Selain itu juga menunjuk kader berupa ibu-ibu warga setempat untuk kemudian diajarkan bagaimana cara-cara menghadapi flu burung dengan benar. Mulai dari memisahkan unggas di kandang, mencuci tangan yang benar sampai tindakan yang harus dilakukan jika ada unggas yang mendadak mati. Dengan harapan, selanjutnya ibu-ibu tersebut akan mengajarkan kepada ibu-ibu lainnya tentang hal yang sama.Selain kaderisasi, kami juga menyebar poster dan stiker tanggap flu burung. Saya ikut rombongan para lelaki yang menyebar poster itu. Dengan senyum lebar, saya mendatangi para akamsi (anak kampung sekitar) dan membagikan stiker seraya berkata “bagikan ke teman-temannya yah.” Akamsi itu diam saja melihat saya. Mungkin mereka tidak dengar, maka saya katakana hal yang sama. Akamsi tetap tidak beranjak dari tempatnya. Sampai akhirnya Andi, teman saya menyampaikan kata-kata saya dalam bahasa Sunda, anak-anak itu kemudian tersenyum senang. Dapat kita cermati bahwa para akamsi tidak dibiasakan berbicara dalam bahasa Indonesia yang baku. Terkait dengan warga sekitar yang jarang mendapatkan kontak dengan dunia luar, mereka menjadi kurang mampu berbahasa Indonesia. Setelah itu, kami yang bertugas di RW 8 menikmati semangkuk baso, dikelilingi anjing-anjing liar. Menakutkan.

Malamnya, kami diajak untuk mengikuti acara maulid nabi di sekitar RW 8. Sambutan warga sangat ramah dan antusias. Kami para mahasiswa diperlakukan sangat istimewa. Mulai dari mendapatkan tempat didalam ruangan, disajikan berbagai makanan kue khas desa tersebut, hingga diberi keistimewaan untuk berceramah di depan warga sekitar. Kesempatan berceramah ini tentunya tidak disia-siakan untuk menyampaikan pesan-pesan mengenai flu burung. Setelah mahasiswa memberikan ceramah, giliran uztad warga sekitar memberikan ceramah. Berbagai macam kue sudah saya habiskan, berbagai macam pembicaraan sudah diulas, namun pak uztad itu tidak kunjung selesai berbicara. Akhirnya kami memutuskan untuk keluar satu persatu (baca: kabur) dan pulang kembali ke basecamp dan tidur.

Esok paginya, tepatnya hari kedua, kami bergegas menuju SD-SMP Negeri Satu Atap I. Disana, forum memberikan penyuluhan tentang rabies dan flu burung kepada siswa SD-SMP disana. Anak-anak ternyata lebih banyak tertawa disana apalagi saat menonton kartun yang ditayangkan oleh forum. Selain itu mereka juga terlihat senang saat diadakan permainan dan segala macamnya. Di tempat terpisah, anak-anak SD bermain voli dengan anak-anak FMITFB. Tidak lupa, forum mengajarkan “Ayam Bebek theme song”. Ternyata, setelah kepergian kami dari sekolah tersebut, banyak anak-anak khususnya anak perempuan yang meminta berfoto dan bertukar nomor ponsel, khususnya dengan seorang teman yang kita sebut Tipar Idol.

Hari masih panjang, setelah solat Jumat, kami mencoba memancing ikan di empang milik orang yang rumahnya kita jadikan basecamp kedua. Saat stok cacing habis, salah seorang teman kami menawarkan diri untuk mencari cacing. Namun, apa daya, dia justru terperosok jatuh. Kasihan memang, tapi hidup ini keras bung! Akhirnya kita memutuskan memakai saringan untuk menangkap ikan. Setelah mendapatkan beberapa ekor ikan, kami langsung memasaknya dan menjadikannya sebagai lauk makan siang. Saya jadi teringat sewaktu pertama kali tiba di dusun Tipar, salah seorang teman mengatakan bahwa kita hanya akan makan mie dan nasi goreng saja. Namun, perkiraan dia ternyata salah. Warga-warga dusun yang dikenal ramah disana ternyata memberikan kita lebih dari nasi dan mie. Terima kasih banyak. Ikan-ikan yang kami tangkap pun matang. Namun karena saya telat, saya hanya disisakan nasi dan kuah sop. Sekali lagi, hidup ini keras bung! Sorenya, kami menyaksikan warga Tipar bermain sepak bola dengan para mahasiswa. Langit berubah perlahan dari biru menjadi jingga saat mereka asik bermain bola. Setelah hari mulai gelap, kami semua pulang ke basecamp.

Sabtu pagi. Hari yang cerah ditambah dengan kedatangan beberapa rombongan yang menyusul untuk mengikuti kegiatan pagi ini: membuat kandang unggas. Saya dan rombongan RW 8 kembali ke RW 8 untuk membuat kandang sekaligus mengecak tentang kaderisasi ibu-ibu. Warga yang telah diberitahukan sebelumnya sudah siap dengan sejumlah bambu, kayu, dan peralatan-peralatan lainnya. Tidak lama kemudian kegiatan membuat kandang dilakukan. Bunyi ketokan palu berpacu dengan suara serangga-serangga musim panas disana, menemani kami sepanjang hari. Tidak lupa, kami disuguhi berbagai cemilan. Malah, menurut cerita teman-teman yang bertugas di RW lain, mereka mendapatkan suguhan berupa makan siang yang lumayan banyak. Menjelang sore, kandang unggas RW 8 sudah selesai kami buat. Namun, ibu-ibu kader ternyata belum mengajarkan materi yang diberikan kepada ibu-ibu lain dikarenakan mereka sedang sibuk bekerja. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu sore di basecamp. Sorenya, kami kembali ke RW 8 untuk mengecek keadaan kaderisasi. Akhirnya ibu-ibu itu kumpul, meskipun tidak mencapai kuota. Disana bu kader yang ditunjuk menjelaskan tentang flu burung dengan menggunakan bahasa setempat. Saya makin bingung.

Menjelang magrib, kami semua menyelesaikan tugas kami. Setelah itu, seluruh mahasiswa diundang berkumpul ke masjid untuk bertemu dengan warga sekitar. Disana, forum mengadakan sharing kepada masyarakat tentang apa yang mereka butuhkan dan kesan pesan mereka terhadap kegiatan yang kami lakukan. Salah satu pertanyaan seorang warga yang dinilai cukup realis, “lalu apa yang harus kami lakukan jika sudah ada warga yang sudah terkena penyakit flu burung?” Tentu saja melapor ke RW setempat. Pertanyaannya, apakah bapak RW adalah dokter hewan? Tidak ada salahnya untuk membangun sistem penanggulangan penyakit hewan untuk mencegah penyakit-penyakit serupa muncul dan berkembang. Namun apa daya, puskesmas saja sudah sulit dibangun. Seharusnya pemerintah setempat mendengarkan pertemuan kami malam itu. Setelah Tanya jawab, tiba saatnya hiburan. Dilakoni lima mahasiswa berbakat, mereka menghibur warga dengan pertunjukan akapela yang biasa disebut nasyid. Meskipun bersifat dadakan, namun pertunjukan mereka memuaskan.

Sepulangnya dari pertamuan itu, forum mengadakan evaluasi masing-masing RW. Dari situlah kemudian saya mengetahui berbagai hal yang menarik, dan berbeda. Di RW 11 misalnya, warganya begitu antusias, dan bahkan sempat menangis saat forum mengucap perpisahan. Ada pula RW yang warganya sudah semangat 45 membuat kandang, ternyata pakunya ketinggalan dan mereka bubar. Selain itu, disampaikan pula ternyata forum kekurangan dana. Akhirnya kami secara sukarela patungan untuk menutupi kekurangannya. Berbagai macam cerita mereka sampaikan, berbagai tindakan mereka rencanakan untuk kedepannya. Namun, jam menunjukkan pukul 2 pagi dan semua harus tidur.

Entah jam berapa kami bangun dan bersiap-siap ke balai pertemuan pagi itu. Yang pasti, kami sempat mandi dan sarapan sebelumnya. Sesampainya di balai pertemuan, semua sudah menunggu. Sambutan demi sambutan pun disampaikan oleh masing-masing tokoh masyarakat disana. Disana kami mengucap perpisahan, dan menggantungkan harapan untuk kemajuan warga yang lebih baik lagi di masa depan. Amin. Setelah itu kami bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya dan tentunya totalitas perjuangan mengiringi kepulangan kami ke daerah masing-masing.

------------------------------------------------------------------------------------
“…wahai kalian yang rindu kemenangan, wahai kalian yang turun ke jalan. Demi mempersembahkan jiwa dan raga, untuk negeri tercinta.”

Setelah penggalan lagu itu berakhir, layar LCD handycam yang saya tonton berubah hitam, pertanda videonya sudah berakhir. Saya menutup layar tersebut, seraya tersenyum sendiri. Perjuangan belum berakhir kawan. Perjuangkan apa yang kalian anggap benar, demi kemajuan masyarakat yang lebih baik. Hidup mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!


0 comments:

author

author

About Me

My Photo
farichah
chirpy duckling, petrichor addict, criminal mind, a rookie writer, believed that zombies are exist
View my complete profile

scrap

scrap

once upon

once upon

Friends

follow or not

follow or not

Followers

visitor

visitor

Tinggalkan jejak anda...

doodle

doodle
Powered by Blogger.