Monday, 13 July 2009
Seekor Anjing Tanpa Kaki Belakang
Setengah tak percaya kulihat dia berlari mendatangi kami. Warnanya putih, wajahnya tampak lucu. Tertegun ku melihatnya. Entah karena takut, atau karena cara dia berjalan.
Dia bergerak hanya dengan dua kaki depannya, memapah setengah tubuhnya yang tidak sempurna.
Dia hanya seekor anjing. Namun sempat mengingatkanku kepada para pengemis di keramaian jalan tempat tinggalku. Mereka yang berjalan dengan tangan dan dengan tangan itu pula mengadah meminta receh, menjual sebuah sesi drama singkat bertema kesengsaraan.
Wajah sedih seolah menjadi atribut wajib selama mereka bekerja. Entah wajah apa yang mereka pasang setelahnya.
Mereka sebut ini pekerjaan, sebagai penjual kemiskinan.
Tapi anjing itu? Dia bahagia hidup bersebelahan dengan si ratu ombak ini.. Berlarian..
Dia mulai berlari ke arahku..
Saatnya kabur.
Palabuhan Ratu, Juli 2009
Dia bergerak hanya dengan dua kaki depannya, memapah setengah tubuhnya yang tidak sempurna.
Dia hanya seekor anjing. Namun sempat mengingatkanku kepada para pengemis di keramaian jalan tempat tinggalku. Mereka yang berjalan dengan tangan dan dengan tangan itu pula mengadah meminta receh, menjual sebuah sesi drama singkat bertema kesengsaraan.
Wajah sedih seolah menjadi atribut wajib selama mereka bekerja. Entah wajah apa yang mereka pasang setelahnya.
Mereka sebut ini pekerjaan, sebagai penjual kemiskinan.
Tapi anjing itu? Dia bahagia hidup bersebelahan dengan si ratu ombak ini.. Berlarian..
Dia mulai berlari ke arahku..
Saatnya kabur.
Palabuhan Ratu, Juli 2009
Labels:
catatan perjalanan,
gak penting
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
author
About Me
- farichah
- chirpy duckling, petrichor addict, criminal mind, a rookie writer, believed that zombies are exist
scrap
once upon
Friends
follow or not
Followers
visitor
Tinggalkan jejak anda...
Feedjit
doodle
Powered by Blogger.

0 comments:
Post a Comment