Showing posts with label tribute to the past. Show all posts
Showing posts with label tribute to the past. Show all posts
Wednesday, 11 July 2012

Mengapa Sephia?

Oh Sephia
Mengapa kau begitu dungu?
Bagai keledai yang terjatuh di lubang yang sama.
Mengapa kau senang bermain api?
Memilih mencintai daripada dicintai

Hey Sephia,
Apa asiknya menjadi kekasih gelap?
Itu bukan cinta, Sephia
Disana, di luar sana, ada orang lain yang mampu mengajarimu cinta.
Mengapa kau tak mencarinya?
Mengapa... mengapa... mengapa?


Kebon Jeruk, 11 Juli 2012
Monday, 22 March 2010

Oh Sephia (old post)

Selamat tidur wahai sephia
Mereka bilang kau simbol kekasih gelap
Apa yang kau cari?
Apa yang kau harap?
Menikmati serpihan remah-remah cinta yang tersisa
Lupa kalau duniamu kelam?

"Oh sephia, malam ini dia takkan datang
Karena dia hanya ingin menikmati, bukan mencintai"

Mimpi indah wahai sephia
Simpan isak dan air matamu
Untuk aku yang mencintaimu
Di masamu yang akan datang

Depok, Mei 2009
Thursday, 26 November 2009

Aku Benci Jatuh Cinta

Aku benci jatuh cinta
Lebih sakit daripada jatuh dari motor
Lebih sesak daripada tenggelam dibawah gunung es

Karena aku menjadi sangat peduli
Menjadi lebih takut apa-apa terjadi padamu
Menjadi lebih curiga akan segalanya
Ya, karena kamu memenuhi kapasitas otakku

Aku benci jatuh cinta
Karena yang namanya jatuh selalu pastilah sakit
Dan aku tidak tahan sakit, apalagi sakit yang lama sembuhnya

Aku benci menahan diri untuk tidak memikirkanmu
Padahal aku hanya ingin kau mengawali dialog singkat tentang apapun bersamaku
Ah, aku tau itu kekanakan kawan... Aku tahu!
Aku hanya ingin tahu seberapa apa arti 'ku'

Aku benci jatuh cinta karena aku takut
Takut kecewa, takut salah langkah, takut jatuh....

......lagi......

Kebon Jeruk, November 2009
Thursday, 23 July 2009

Jagakarsa di Sore Hari

Macet di sepanjang jalan, berdampingan dengan kereta-kereta ekonomi yg sibuk lalu lalang.
Baru kemaren aku dapet sms setengah berkelakar darimu, 'kangen i'
Skarang, aku jd ingat dahulu waktu kau biasa mengantarku pulang, di sepanjang jalan ini pula aku mendekapmu di atas vespa hijau itu.

Kadang mampir ke pondok indah untuk sekedar nonton atau makan.
Atau melewati jalanan baru biar aku senang.
Kita saling menatap lewat kaca spion jika lampu jalan berubah merah.

Setelah sampai masjid depan rumahku, aku bilang 'makasih' dan kau pulang ke rumahmu yg lumayan jauh itu..

Hanya teringat, tak ingin mengulang, terlalu beresiko... Sore itu, di jagakarsa :)


Bus deborah depok-kalideres, 2009
Tuesday, 14 July 2009

Gak Pengen Mikirin Lagi...

"Lagi-lagi begini! Ah sial!" malam ini kembali merenungnya. "Untung dia memberi kebahagiaan ini cuma sebentar" pikirku. Jika lebih dari 2 minggu, mungkin tembok kamarku masih melihat wajah muram atau mendengar sebuah lagu tanpa judul milik Maliq d'essential malam ini.

"Malam ini malam terakhiiir..." sepotong syair dangdut nista itu kembali menerkam otakku. Dan seperti syairnya aku berjanji: ini malam terakhir merenungnya. Merenungi sang pelangi, merenungi si misteri soliter.

Esok bisa jadi terakhir kali melihatnya. Tak kan kukatakan rasa meskipun itulah kenyataannya.

"Ya Tuhan, sembuhkanlah aku dari 'penyakit' ini. Dan sampaikan kepadanya, jangan keseringan merokok, ntar sakit"

Kebon Jeruk, Juli 2009
Wednesday, 22 April 2009

Too Much Love Will Kill You

Andai kadar sayang bisa ditakar
Andai cinta bisa dikontrol
Andai rindu bisa diatur
Seperti volume pada amplifier
Seperti sirup dalam gelas
Seperti anak TK sedang berbaris

Kesalahanku, membiarkan semuanya berlebihan
Volume itu kuputar mentok ke kanan
Sirup itu kubiarkan luber melebihi kapasitas
Anak TK itu kubiarkan rusuh dan ribut
Anehnya, aku menikmati itu semua
Kebisingan cinta di kepalaku
Manisnya sayang yang tumpah di nadiku
Kerusuhan rindu ang memenuhi batinku

Padahal aku tahu itu bisa membunuh
Saat tidak ada yang memainkan kebisingan cinta
Saat tidak ada yang menuang sayang
Saat tidak ada rindu untuk diatur
Lalu angka itu mulai berubah

100... 90... 70... 50... 30... 10... 0... -30

Aku sempat mati terbunuh
Too much love will kill you?
Nope!
Too much loving someone will finish you..


*Seseorang yang pernah jadi bagian dalam hidupku pernah bilang jangan mencintai orang sampai 100%. Katanya, kalau kehilangan orang tersebut, bakal jadi sakit banget.Tapi dia gak pernah kehilangan.. Malah aku yang sakit.. Aneh*
Wednesday, 18 February 2009

Saat Semuanya Benar-benar Berakhir

Malam ini... terakhir aku mendengar suaramu.. aku kembali menangis...
Kenapa tidak kau bunuh saja aku sekalian?
Kenapa mesti perlahan kau iris hati..
lalu jantungku..
dan semuanya berhenti berdetak.
Aku mati.
Tapi bukan fisikku
Aku yang mereka sebut kebahagiaan
Aku api kecil yang tersiram hujan
Menyisakan asap kecil yang menari
lalu hilang berlari...

Aku mati.
Aku hanya fisik tak bernyawa
tubuh tak berharga
Aku hanya bisa bergerak
bukan berpikir dan merasakan...
Aku padam
Menyisakan kegelapan malam
Yang terhias dengan air mata
Hati yang terluka dalam
Meninggalkan semua cerita...
Wednesday, 14 January 2009

Renungan Gedung SAMPAH!

Motor ini membawaku menuju suatu tempat yang belum pernah saya datangi sebelumnya. Meski masih di bilangan Jakarta Barat, namun lama sekali rasanya perjalanan ini kutempuh. Saya mengantuk, mata saya perih, debu jalanan seakan sudah menumpuk di pelupuk mata. Pikirku, untuk apa orang berjalan jauh-jauh sampai ke daerah ini?
Sampailah saya pada suatu perkampungan kumuh. Jalanan tadi sudah cukup buruk, ternyata tidak lebih buruk dari perkampungan yang berdiri dari sampah ini. Ya, sampah dimana-mana. Mungkin saya bisa menemukan kaleng susu bear brand yang saya buang kemarin karena nampaknya semua sampah Jakarta Barat bermuara disini. Lalu kulihat sebuah gedung berdiri kokoh diantara sampah-sampah itu. Gedung itu bersih, seakan menjadi bangunan paling apik disana.
Itulah tujuan saya. Saya masuk ke gedung itu. Banyak sekali orang menunggu, seperti di ruang tunggu Rumah Sakit, tapi mereka tidak sakit. Saya bertemu bapak dan ibu saya disana yang juga sedang menunggu. Mereka menunggu sebuah keputusan: pisah atau tidak.
Ironis memang. Gedung ini dibuat jauh dari peradaban. Namun, masih banyak saja orang datang untuk menuntut sebuah perpisahan disana. Saya tidak suka. Lalu saya keluar, mencoba berpikir bahwa jalan hidup ini yang terbaik, untuk tidak memilih keduanya: bapak atau ibu.
Lalu saya pergi meninggalkan gedung itu, Pengadilan Agama Jakarta Barat.
Saya tidak sedih.
Hanya muak...
Ya, saya muak!
Friday, 22 December 2006

Hanya Aku dan Hujan

Hujan. Buat sebagian orang, turunnya hujan bisa dijelaskan melalui pendekatan sains. Buat sebagian orang, turunnya hujan dijelaskan dengan pendekatan metafisik. Tapi buat aku, hujan tidak lebih dari rintik air yang menyenangkan. Apapun yang terjadi, hujan bisa membuat aku tersenyum dan menangis dalam waktu yang sama. Memperjelas kenangan yang dikaburkan oleh waktu.

Hujan ini turun lagi. Mungkin kamu ingat saat kamu duduk memandangi langit hitam kelam. Saat pikiranmu melambung, melayang kepada kejadian di gunung itu. Saat musibah kecelakaan itu terjadi pada malam saat hujan. Kamu ingat?
Hujan ini turun lagi. Seperti saat kita pulang dari pesta seorang teman. Saat kita saling mentertawakan diri masing-masing. Hujan seolah ikut berbahagia sampai akhirnya reda saat kita habiskan sore dengan sepiring spagheti. Kamu ingat?
Hujan ini turun lagi. Deras. Sederas air mataku waktu itu. Menangisi tidak saja kepergian dirimu tetapi juga kepergian apa yang kusebut ‘kesetiaan’. Kamu menghabiskan hari bersamanya disana dan aku disini setia menunggumu tanpa tahu apapun tentang kamu dan dia. Kamu ingat?
Hujan ini turun lagi. ‘Happy Birthday to me’ dan kamu menikamku dengan sosok seorang perempuan yang kau bawa beserta seikat bunga kuning arti kita-sekarang-hanya-sahabat. Aku bernyanyi lagu ulang tahun dengan pisau hampir memeluk pergelangan tanganku. Kamu ingat?
Hujan ini turun lagi. Saat kereta Bogor ini membawaku pulang menuju Depok. Aku tersenyum sendiri tanpa sadar. Sampai seorang teman bertanya apa aku masih memikirkan kamu. Ya. Aku memang memikirkanmu. Aku berpikir tentang ‘kebebasan’ dan aku tersenyum lebih lebar, bahkan tertawa kecil. Kamu ingat?
Dengan segala kesenangan yang kini mengelilingi hidupmu… kurasa tidak.
Dengan segala kenangan yang kabur seiring waktu… hanya aku yang ingat kan?
Ya. Hanya aku dan hujan.
[in memoriam Aan the bunny]

author

author

About Me

My Photo
farichah
chirpy duckling, petrichor addict, criminal mind, a rookie writer, believed that zombies are exist
View my complete profile

scrap

scrap

once upon

once upon

Friends

follow or not

follow or not

Followers

visitor

visitor

Tinggalkan jejak anda...

doodle

doodle
Powered by Blogger.